You are here

Paryono : Pelopor Konsep Pertanian Terpadu di Tulungagung

Kegagalan bukan sebuah akhir dari perjalanan, ungkapan ini rasanya tepat apabila ditujukan kepada Paryono, salah satu pensiunan PT. Pupuk Kaltim. Mengawali usaha selepas masa tugas sebagai karyawan bukanlah hal yang mudah, selain ketepatan penempatan modal juga harus diimbangi dengan sejumlah factor lain untuk mendukung keberhasilan tersebut. Kiat-kiat keberhasilannya antara lain harus jeli melihat peluang  pasar, mandiri,  mudah untuk dilakukan pengembangan, sederhana dan tidak memforsir pikiran serta tetap memeperhatikan keramahan terhadap lingkungan dan yang utama kegiatan usaha tersebut berlandaskan pada kesenangan/hobby.

Kiat-kiat sederhana tersebut telah membuahkan hasil yang sangat maksimal yang dirasakan oleh Paryono dalam menjalankan usahanya ditempat tinggalnya di dusun Buret Desa sawo RT 16 RW 5 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Bermula dari ternak ikan gurami di kolam ikan yang memang sudah disiapkan sebelum memasuki masa purna tugas mengalami kegagalan saat panen pertama, Paryono kembali bangkit dengan keyakinan dan semangat yang justru melebihi semangat sebelumnya.

Belajar dan terus mancari penyebab kegagalan dan bagaimana mengatasinya adalah hak paling awal dilakukan Paryono meski sebelumnya mendapat penolakan dari anak-anaknya yang meminta beliau untuk bisa menikmati masa pensiun dengan istirahat.

Berbekal uang pesangon mulailah beliau membeli lahan untuk pertanian dimana beliau mencoba menerapkan konsep pertanian terpadu yang meliputi sektor produksi pertanian, peternakan dan perikanan yang saling sinergi. Dimana limbah perikanan (kolam ikan) dan peternakan dapat dimanfaatkan untuk pengairan sekaligus menjadi pupuk organik bagi lahan pertanian. Dengan system pertanian terpadu yang awalnya didaerahnya adalah daerah pertanian tadah hujan dengan hasil panen hanya 1 kali dalam setahun, saat ini mampu menghasilkan 3 kali panen dengan pola tanam padi-padi-jagung. Selain itu ditanam tanaman tumpangsari berupa kangkung yang dimanfaatkan untuk makanan ikan dan rumput gajah sebagai pakan sapi.

Bapak dari 6 orang anak yang tidak pernah mengenal kata putus asa inipun mencoba menerapkan ilmu yang pernah didapat saat acara purna tugas.

Dengan ilmu tersebut, akhirnya keberhasilan dapat dipetik. Dengan pola yang sangat sederhana baik itu perhitungan pembuatan kolam ikan maupun pemasarannya ternyata mampu mendapatkan keuntungan yang maksimal.  Sebagai contoh konsep/analisa usaha perikanan (budidaya ikan gurami) yang diterapkan adalah sebagai berikut :

Setiap 30 kg pakan akan menghasilkan daging/berat ikan ± 21 kg, harga pakan Rp 200.000,- / 30 kg. Harga ikan rata-rata Rp 16.000,-/kg x 21 kg = Rp 336.000,-. Jadi selisih harga penjualan ikan dengan harga pakan dari Rp 336.000,- dikurangi Rp 200.000,- menjadi sebesar Rp 136.000,-. Harga bibit ± Rp 750,-/ekor sementara kebutuhan pakan dalam 1000 ekor adalah sebanyak 30 karung @ 30 kg. Bisa dibayangkan keuntungan yang didapat akan lebih berlipat jika kita pandai melihat pasar, karena harga bisa mencapai Rp 20.000,-/kg. Harga rata-rata biasanya berkisar antara Rp.15.000 – Rp.18.000,-/kg. Tak heran kalau suami dari ibu Surini saat bulan Mei lalu dapat mencapai harga tertinggi sehingga mampu membawa keduanya terdaftar sebagai calon peserta haji untuk yang kedua kalinya dan tak heran keduanya dijuluki Haji Gurami. Untuk usaha pertanian dan peternakan yang dilakukan selama ini adalah dengan cara bagi hasil dengan pengelola sehingga beliau tidak memerlukan tenaga dan fikiran, beliau hanya sebatas mengawasi. Hasil yang diperoleh ternyata mampu dan cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari.

Didampingi istri dan ke enam putera puterinya, ada kebahagiaan yang luar biasa dirasakan Paryono dengan usahanya yang berawal hanya sebagai ladang pendapatan materi juga menjadi sebuah ladang Ibadah, dengan membagikan ilmu dan membagikan apa yang tadinya dibuang dan dianggap limbah dari kolam ikannya menjadi sesuatu yang bermanfat bagi kehidupan sekitarnya. Dengan keberadaan kolam ikan tersebut 12 kepala keluarga yang memiliki lahan pertanian disekitarnya seluas ± 2 hektar menuai berkah dan mampu meningkatkan perekonomian warga dengan menggunakan system Pertanian Terpadu yang sebelumnya hanya panen satu tahun sekali dapat menjadi 3 kali dalam setahun.

Dengan gaya bicara yang santai dan suara yang khas , Paryono yang mengawali karir di PT. Pupuk Kaltim tahun 1981 di Departemen Cangun sebagai ruang awal dalam berkarir yang selanjutnya pindah ke JPP dan terakhir di Bagian Pemeliharan Alat Berat ini mengajak kepada rekan-rekan sesama pensiunan yang tertarik dengan usaha perikanan, pertanian dan peternakan untuk bisa berbagi pengalaman dengan system yang sangat sederhana namun hasil yang diperoleh sangat maksimal. Karena seperti diawal cerita bahwa memulai usaha di usia yang tidak muda dan dimasa pensiun memiliki tantangan sendiri yang sesungguhnya bisa diatasi dan dijalani dengan baik.

Dengan keberhasilannya, Paryono telah menjadi wadah sharing dan nara sumber dalam Pengembangan Wilayah yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perikanan serta Dinas Pertanian diwilayahnya. Kakek dari 6 orang cucu yang selalu tampil energik dan selalu bugar ternyata punya resep khusus dengan selalu menjaga kesehatan  dengan melakukan aktifitas olahraga sepeda ontel setiap minggu pagi di kabupaten dan selain itu beliau juga diamanahi sebagai pengurus pengajian diwilayah tempat tinggalnya. Diakhir perjumpaan dengan penulis Paryono berpesan kepada rekan-rekan sesama pensiunan Pupuk Kaltim jangan segan-segan untuk datang atau menelpon beliau baik dalam hal berbagi ilmu maupun bersilaturahim.

Bergabung Bersama Kami di Twitter!