You are here

Sukri Djohan, Pantang Menyerah Dalam Meraih Cita-cita

Sukri Djohan memiliki perjalanan hidup yang sangat panjang dan penuh liku. Tak pernah ada kata menyerah dari pria yang dilahirkan pada era Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 10 Maret 1945 di sebuh desa kecil  yang berjarak 8 (delapan) km dari kota Sukadana sebuah Kecamatan di Lampung Tengah.

Sosok Sukri Djohan tentu sudah tidak asing lagi dilingkungan para senior-senior di PT Pupuk Kaltim khususnya di Direktorat Keuangan, Pengawasan Intern dan DSM Kaltim Melamine. Masa Pensiun sudah dijalani beliau  sejak bulan Maret tahun 2001. Mengingat anak-anaknya tinggal menetap dan berkeluarga di Jakarta dan sekitarnya, maka jauh sebelum pensiun rupanya Ayah 4 orang anak ini sudah mempersiapkan rumah  pensiunnya di Jakarta.

Tak terasa sudah 12 tahun masa pensiun sudah dijalani kakek 7 orang cucu ini, banyak suka duka yang dialaminya sebagaimana dituturkan kepada penulis saat mengunjungi rumahnya di bilangan komplek Jati Waringin  Pondok Gede Bekasi. Mengawali cerita dari masa kecilnya sebagaimana diceritakan oleh Suami dari Qurratu Aini sejak masa memasuki usia sekolah bahwa untuk bisa merasakan pendidikan dasar (dahulu Sekolah Rakyat) harus dilakoni dan dijalani dengan berpisah dari orang tuanya. Bersama saudara dan teman-teman sebayanya Sukri Djohan yang masih berumur 6 (enam) tahun harus rela dan merasakan hidup mandiri berpisah jauh dari orang tua demi menuntut ilmu disebuah kota kecil yang bernama Metro – Lampung Tengah yang berjarak kurang lebih 30 km dari desanya.

Bersama saudara dan teman-teman sebayanya dari desanya sebanyak 7 orang tersebut mengawali perjalanan pendidikannya dan menyewa sebuah rumah untuk ditempati bersama- sama dan ditemani serta diawasi oleh pamannya. Pada saat itu jarak desa kelahiran dan tempat menimba ilmu dirasakan cukup jauh. Pada tahun 1951 belum ada sarana transportasi umum yang bisa menjangkau desa dimana orang tuanya tinggal. Namun, tidak pernah ada kata menyerah, yang ada hanya semangat yang tinggi dan akhirnya mampu melewati kondisi tersebut hingga mampu menamatkan pendidikannya sampai tamat Sekolah Menengah Pertama  (SMP). Tidak puas hanya dengan pendidikan sampai SMP saja, rupanya Ayah dari 4 orang anak ini masih ingin terus menuntut ilmu. Untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, tentu saja di kota kecil belum tersedia, dan akhirnya jatuh pilihannya pada Pendidikan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA Negeri) dan hanya satu-satunya ada di Ibukota Propinsi Lampung yaitu Tanjung Karang. Tahun 1964 setelah tamat dari SMEA , Sukri Djohan masih ingin melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi, namun pada saat itu belum ada Perguruan Tinggi di Bandar Lampung. Dengan keterbatasan biaya , bersama 2 sahabatnya merantaulah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dengan bermodalkan ijazah SMEA dan BOND B, akhirnya beliau diterima bekerja di delaer mobil Amerika. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata keinginan untuk memperoleh masa depan yang lebih baik menjadi motivasi untuk ingin meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dengan bantuan informasi seorang sahabatnya yang telah bekerja di Departemen Keuangan RI, akhirnya Sukri Djohan mengikuti tes dan diterima di Akademi Ajun Akuntan Negara (A3N) dan memperoleh gaji sebesar  80%, karena pendidikan tersebut sudah merupakan ikatan dinas dengan Dirjen Pengawasan Keuangan Negara – Departemen Keuangan RI. Tahun 1969, rupanya juga sebagai akhir masa lajangnya dan menikahi gadis  Lampung yang tak lain adalah sahabatnya yang bernama Qurratu Aini yang juga seorang PNS. Dari perkawinannya beliau dianugerahi 2 putera dan 2 puteri dan saat ini sudah berkeluarga semua. Setelah lulus dari Pendidikan A3N beliau menjalani ikatan dinas di Departemen Keuangan RI selama 5 tahun. Kemudian tidak hanya sampai disitu beliau kembali mencoba pengalaman baru untuk pindah bekerja di sebuah kantor Akuntan Publik. Dan akhirnya pilihan terakhir beliau melamar dan diterima di PT Pupuk Kaltim di tahun 1979 hingga mengabdi sampai dengan masa pensiun beliau di tahun 2001. Saat ini tinggal beliau berdua bersama istri menikmati masa pensiun dengan tenang. Ada kebahagiaan yang luar biasa dirasakan jika saat libur tiba, dimana saat anak dan menantu juga bersama cucu-cucu dapat berkumpul dan bersenda gurau  bersama-sama.

Sekali waktu kami juga menyisihkan dana untuk kegiatan umroh berdua maupun berlibur bersama anak-anak dan cucu-cucu. Pernah mencoba bisnis, namun karena kurang pengalaman akhirnya merugi. Karenanya  beliau saat ini hanya fokus pada kegiatan sosial dan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Beliau aktif sebagai Pengurus P3KT Pusat dengan jabatan sebagai Bendahara dan juga Pengurus Mesjid dilingkungan  rumah di Jatiwaringin. Terkadang jika Imam Masjid berhalangan hadir, beliau menggantikan sebagai Imam saat sholat berjamaah di Masjid, satu kegiatan rohani yang menjadi salah satu kebahagiaan beliau. Terakhir, pesan kepada teman-teman sesama Pensiunan agar menjaga kesehatan dengan cara pola makan yang sehat dan teratur, olah raga yang cukup serta meningkatkan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Bergabung Bersama Kami di Twitter!